Wednesday, 30 January 2019

Ketika Kucing Kesayangan Mati Di Tabrak

Awalnya di rumah kami punya banyak kucing jumblahnya hingga tujuh ekor, kucing tersebut di rawat oleh ibu saya, memang sih bukan kucing mahal seperti anggora, kucing yang tingal di rumah saya di dapat dengan cara memungut kucing jalanan yang terlantar di pasar atau juga di buang orang kemudian di pungut oleh ibu saya.

Ketika Kucing Kesayangan Mati Di Tabrak


Ada juga kucing yang di kasih sama rekan kerja ayah saya. Tidak mudah untuk membesarkan kucing kucing tersebut, perlu kebaran ekstra untuk mendidik si kucing agar bisa buang PUP pada tempatnya.

di rumah saya ada sebuah kandang selebar kandang ayam berukuran kecil, ketika ada kucing baru, mereka akan di karantina di dalamnya sambil di letakan beskom berisi pasir untuk tempat buang PUP si kucing.

Jika kucing tersebut sudah pandai buang PUP sendiri di baskom pasir barulah di keluarkan untuk tinggal di rumah. Kemarin salah satu induk kucing melahirkan hingga lima anak, namun sayang anaknya dua mati.

Dari Tiga anak kucing tersebut ada satu kucing kesayangan yang di sukai oleh ibu saya, berwarna hitam seperti coreng kayak harimau, berjenis kelamin jantan namanya Dorry. Nama yang mirip dengan ikan betina di film Nemo.

Yang membuat si Dorry unik adalah walaupun dia kucing jantan tapi memiliki suara layaknya kucing betina lembut dan halus, bahkan kami punya pikiran harusnya si dorry ini lahir dengan kelamin betina bukan kucing jantan.

Si dorry paling suka bermanja manjaan dengan ibu saya di banding kucing lain. Pada saat kucing berkumpul untuk makan sereal si Dorry akan mendapatkan tempat khusus untuk makan di depan ibu saya.

Hingga suatu hari di pagi hari, ada tetangga mampir ke rumah dan memberi tahu ibu saya bahwa di jalan depan rumah kami ada kucing mati di tabrak. Ibu saya panik dan menyuruh saya untuk melihat apakah itu kucing kami atau bukan.

Walaupun bentuk tubuhanya sudah hancur ketika saya melihatnya saya mengenali bahwa itu kucing kami, saya kemudian pulang ke rumah memberitahukan ibu saya kalau yang mati itu adalah si dorry.

kemudian Ibu saya menyuruh saya untuk mengambil mayatnya. Jujur saja di dalam hati saya sempat menolak karena melihat kondisi badannya yang udah agak hancur, tapi akhirnya saya beranikan pergi ke seberang jalan dengan membawa sarung dan karung untuk mengevakuasi jenazah si kucing.

Karena tubuhnya hancur dan terlalu licin itu membuat saya tak bisa memasukannya ke dalam karung akhirnya jenazah si dorry hanya saya tenteng pulang kerumah  dengan mengunakan kain.

Ketika ibu saya melihat kondisi tubuh kucing kesayangannya yang agak hancur dia nangis, dan saya hanya diam lalu saya pergi ke rumah untuk mengambil cangkul.

Di belakang rumah saya mengali makam si dorry sambil mendengar ratapan ibu saya. Awalnya saya tak merasa sedih tapi setelah ingat beberapa kenangan dengan si Dorry di situ akhirnya muncul perasaan iba dan sedih.

Walaupun saya tak meneteskan air mata seperti ibu saya.

Nah  Itulah sobat sedikit dari pengalaman saya ketika mengubur si kucing, terimakasih sudah membaca.